Akhir-akhir ini aku harus semakin bersahabat dengannya hanya untuk sekedar menunggunya berbunyi. Meskipun sewaktu berbunyi terkadang nama yang tertera bukanlah yang aku inginkan.
Aku ingin namamu yang tertera di layar handphone ku.
Ku akui jarak memang menjadi salah satu penghalang. Bukan aku tak mau bertemu, tapi ya ada saja halangan. Begitupun kamu, yang terlalu sibuk kerja. Waktu menjadi alasan juga untuk bertemu, karena tak mungkin hanya sehari dua hari disamping waktu kerjamu yang tak menentu.
Tapi hari ini aku senang. Kamu meneleponku ketika sambil nyetir -ini jangan di contoh :p- , lalu kamu menjawab salam dan kamu tiba-tiba bertanya, 'suara di speaker dan kata-kata di layar ngga cukup kan?' dengan malu-malu aku menjawab, 'iya' . Setelah itu kamu kembali bertanya, 'lalu harus gimana?' aku kembali menjawab, 'ketemu' sambil kulanjutkan dengan tawaku yang katamu terdengar senang sekali.
Ya, aku senang mendengar suaramu pagi ini. Walaupun lagi-lagi aku harus sabar untuk bertemu denganmu. Dilanjutkan kamu bercerita apa yang terjadi semalam dan menceritakan apa yang akan kamu lakukan hari ini. Hari ini kamu kerja, dan akan sangat sibuk dua hari ini. Setelah itu, kamu bertanya aku sedang apa, hari ini apa yang aku lakukan, sudah makan belum. Akhirnya kamu memutuskan untuk menutup telepon karena akan masuk tol -lagi2 jangan di contoh nyetir sambil telepon-
Terlihat sederhana ya sebenernya, tapi mengena. Ya karena kita tak bisa sering bertemu. Tapi aku cukup senang dengan perhatianmu, sekedar bertanya kabar atau malah meminta maaf karena tak sempat memberi kabar.
Setelah selesai percakapan kita, aku pun termenung, aku berpikir. Padahal aku bukan siapa-siapa kamu, dan kamu pun memiliki kekasih. Tapi kenapa seperti ini, dan sudah hampir setahun begini.
Apa aku bodoh dan harus meninggalkanmu? Namun aku tak sanggup, sama sepertimu.
coba berhenti sementara, barangkali ada yang beda. berani coba?
BalasHapustetap rajin nulis yaaaa