Sabtu, 14 Februari 2015

Kepadamu Aku Jatuh Cinta

Pertemuan pertama yang kini ku sebut takdir. Kejadian demi kejadian yang malah membuatku jatuh cinta kepadamu. Aku salah, karena waktu itu aku memiliki kekasih. Namun, tak berjeda lama kekasihku memutuskan ku demi wanita lain. Sakit? Sebenarnya iya, namun saat itu ada kamu.

Aku pikir kedekatan kita tak akan berlangsung lama. Ya, karena kita berbeda kota. Ternyata aku salah. Bahkan sampai detik ini kita pun masih berhubungan baik. Sangat baik.

Sejujurnya ketika aku mengetahui kamu memiliki kekasih, rasanya hati ini seperti kamu jatuhkan dari langit. Hancur berkeping-keping. Bahkan rasanya lebih sakit dibanding saat aku putus cinta. Saat itu yang aku pikirkan hanya ingin pergi dari mu. Pergi jauh, tanpa mengganggu kehidupanmu apalagi aku harus merusak hubungan kalian. Aku pikir melupakanmu akan lebih baik.

Tetapi ketika keinginan tak berjalan seiring kenyataan, ya kamu mencari ku kembali. Aku yang saat itu sudah mulai menerima kembali terjatuh lagi. Aku tak mengerti apa mau mu saat itu. Lalu tak berselang lama kita bertemu kembali. Kau menceritakan semuanya. Aku pikir saat itu aku bodoh karena bisa menerima semua ceritamu. Apa aku cinta buta padamu?

Sejak pertemuan itu, hubunganku dengan mu baik-baik saja. Pembicaraan demi pembicaraan berjalan lancar. Kau bercerita tentang hidupmu, keluh kesahmu, masalahmu, dan semua yang terjadi kepadamu. Semakin kamu bercerita semakin aku tak bisa meninggalkan kamu. Ya, aku tak bisa meninggalkanmu yang sedang banyak masalah ataupun tekanan dalam hidupmu. Mana aku tega? Sedangkan kamu selalu membantuku jika aku sedang sama sepertimu.

Terkadang aku tak mengerti apa mau mu kepadaku. Kamu memiliki kekasih yang bisa kamu temui setiap saat. Sedangkan aku, untuk bertemu pun belum tentu bisa setiap bulan. Bahkan ini sudah lebih dari 6 bulan. Kamu tetap menahanku. Kamu pun berkata sayang kepadaku, dan aku cinta kamu. Begitu mudahnya kah kamu ucapkan?

Semakin aku tak mengerti, dengan semua perhatianmu kepadaku. Kamu meneleponku hanya bertanya kabar, atau meminta maaf karena kamu sibuk kerja. Iya, kepadaku kamu melakukannya. Aku, yang bukan siapa-siapa mu. Malah kamu bercerita jika kamu jarang berkomunikasi dan bertemu dengan kekasihmu. Aku merusak?

Sampai detik ini aku tak mengerti apa mau mu. Kenapa kamu mempertahankan aku, dan ketika aku mencoba menghilang kamu kembali mencari ku. Tapi tenang, aku sudah bisa menerima keadaan kamu memiliki kekasih, dan aku tak pernah berusaha merusak hubungan kalian.

Aku jatuh cinta kepadamu sejak pertama bertemu hingga detik ini. KepadaNya aku berdoa yang terbaik untuk kita. Entah kamu akan bersamanya, bersamaku, atau tidak keduanya sama sekali. Aku akan terima.

Kepadamu aku jatuh cinta, T!

Dari yang sedang terjebak dalam cintamu.





Rabu, 11 Februari 2015

Hai, Kembaran!

Hai kembaran aku, eh bukan kembaran sih. Kita berbeda hampir setahun. Ah ya, hanya karena sifat kita 80% mirip sih. Kehidupan kita juga ga beda jauh. Sama sama anak tunggal, kesepian, orang tua sibuk, yah seperti itu lah.

Sudah hampir setahun ini mengenalmu, dan aku merasa sangat mengerti kamu. Ya lagi-lagi karena sifat kita mirip maka aku tahu cara menghadapimu. Di kala kamu sedih, kesal, marah, bosan, bete, dll. Aku menghadapi kamu sama seperti yang aku ingin ketika orang menghadapiku.

Kita tinggal berjauhan, kamu di Ibukota aku di Daerah Istimewa. Terakhir bertemu, Juli 2014. Lama sudah. Ya, pertemuan pertama kita yang bisa disebut takdir daripada kebetulan. Berlanjut hingga detik ini.

Kita berbeda jenis kelamin, jadi ya ga bisa murni hanya teman. Saudara? Iya itu kan mama kamu yang sebut. Padahal aslinya ga kaya saudara ya? :D

Semakin hari aku semakin tahu tentang kamu, begitu juga kamu tentangku. Terkadang kamu bercerita tentang pekerjaanmu yang berat, mama mu yang tak suka pekerjaanmu, atau bercerita tentang kekasihmu. Iya kamu punya kekasih, walaupun jarang kamu ceritakan.

Selain itu, ada masalah-masalah pribadi lain yang kamu ceritakan kepadaku. Entah hanya sekedar chat, atau kamu telepon sambil bercerita menggebu. Terkadang aku pun tahu kamu sedih dan berat menjalani kehidupanmu, padahal kamu punya segalanya.

Tapi tenang sayang, kan aku sudah bilang hidup kita tak berbeda jauh. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Hidup tak selamanya mulus kan? Selagi kamu berusaha keras, dan kamu bisa buktikan kamu mampu, semua akan terlihat hasilnya nanti. Sama seperti yang kamu bilang kepadaku, jika aku sedang merasa sepertimu.

Kamu pernah bilang padaku, kalau aku butuh tempat cerita aku bisa mencari kamu. Begitu pula kamu. Ya kita memang tak bisa selalu bertemu. Tapi kamu tetap bisa ceritakan segala keluh kesahmu, masalahmu, atau sekedar bercerita tentang yang kamu jalani hari itu.

Kalau kamu cari yang cantik dan kaya, aku mundur. Tapi kalau kamu cari yang sabar, pendengar yang baik, yang bisa menerima segala kekurangan dan kelebihanmu kamu bisa cari aku.

Aku kangen kamu sayangku. Cepat luangkan waktu mu dan kita bisa bertemu. Maaf kan aku yang juga tak bisa mengunjungimu.

Tapi.. kalau kamu butuh aku, aku selalu ada kok :)

- Terkadang kita bisa hanya sebagai teman, saudara, tempat adu mulut bahkan seolah tak kenal. Tapi kita juga bisa seperti sepasang kekasih ketika saling mengucap sayang, rindu akan temu dan muak akan jarak.

Kamis, 05 Februari 2015

Surat Cinta Untuk Kalian

"Ini unit ke Karimunjawa?"
"Iya sini kumpul disini."

Percakapan pertama aku lupa entah dengan siapa. Saat itu aku merasa paling tua diantara kalian. Iya kalian, 25 orang lainnya. Rasanya jadi paling tua, aku takut nanti kalian terlalu menganggap aku tua, lalu kalian jadi sungkan denganku. Itu yang kubayangkan pertama saat melihat wajah-wajah kalian.

2 tahun yang lalu, kita memulai segalanya. Iya, kita akan melakukan tugas wajib dari kampus. Yaitu, KKN -Kuliah Kerja Nyata- di Karimunjawa. Karimunjawa yang kata orang terkenal dengan keindahannya, dan kita memutuskan untuk KKN disana.

Kita, 26 mahasiswa dari berbagai jurusan, dari berbagai latar belakang, dan dengan segala perbedaan lainnya.

Beberapa kali pertemuan, masih terasa awkward. Beberapa dari kalian sudah saling mengenal, sehingga terlihat akrab. Aku masih belum dekat dengan kalian. Iya, aku memang terlihat pendiam kalo belum kenal baik. Terkadang ada yang menganggap aku judes atau jutek, padahal itu emang muka aku yang begitu dan aku juga susah untuk memulai perkenalan dengan orang lain.

Berbagai macam hal kita lalui, mulai dari persiapan, keberangkatan, pas di lokasi, pemulangan, dan setelahnya. Semakin lama kita semakin dekat, semakin akrab. Apalagi kita 2 bulan ada di Karimunjawa. Orang lain mikir ke Karimunjawa enak banget, padahal ga gitu juga sih ya. Sinyal susah, listrik terbatas, jalan buruk. Ya itu semua keterbatasan membuat kita semakin dekat. Karena kita nggak tahu mau ngapain lagi kalo semua serba terbatas.

Menurut pengalaman teman-temanku yang sudah KKN, kebanyakan pertemanan dengan teman KKN tak berlangsung lama. Sebatas selesai mengerjakan laporan, lalu sudah. Tapi ternyata kita beda. Pertemanan masih berlanjut hingga ke bulan-bulan berikutnya. 

Kita merayakan ulang tahun bersama, bertemu hampir setiap hari hanya untuk makan, ngobrol, karokean, jalan-jalan, dll. Ya kita sedekat itu, sudah biasa jika ada ejek-ejekan. Sudah paham juga dengan sifat masing-masing.

Ya, kalian keluargaku. Terima kasih untuk pengalaman KKN yang begitu menyenangkan, untuk persahabatan kita. Untuk segalanya. Sekarang kita sedang menuju proses untuk mencapai impian masing-masing. Ada yang sudah melanglang buana, ada yang masih kuliah (termasuk aku), ada yang entah apa lah. Terima kasih sudah menjadi bagian dalam hari-hari ku beberapa waktu ini. Tempat untuk curhat, tempat untuk melakukan hal-hal ga jelas, dan apapun. Semoga hubungan kita masih bisa terjalin hingga selamanya.

Faisal, Tiko, Muna, Mira, Ifa, Tika, Angga, Greta, Ahfas, Dimas, Didiek, Dita, Ian, Hani, Niha, Cecep, Tedy, Juna, Didit, Fikri, Indah, Dinda, Bagas, Yolan, Devi.


SEE YOU ON TOP! See you soon!


Rabu, 04 Februari 2015

Hey, kamu!

Bersyukur aku mengenalmu, banyak hal baik dan pengalaman yang aku dapatkan. 7 tahun yang lalu, semua dimulai...

Selamat pagi, bagaimana kabarmu sekarang di negeri seberang? Baik-baik saja kan? Semoga pekerjaanmu selalu lancar dan jangan lupa untuk kembali ke Indonesia.

Hey, kamu!
Pacar pertamaku.
Perkenalan pertama kita sekitar 7 tahun yang lalu. Melalui grup chatting SMA. Iya, kamu kakak kelasku sewaktu SMA. Kata teman-temanmu kamu nakal. Tapi mereka heran, kenapa aku mau sama kamu. Hahahaha

Sewaktu temanku dan temanmu tahu kita berpacaran, rasanya satu sekolahan itu tahu. Kadang memalukan memang, karena aku dipanggil-panggil oleh teman-teman mu. Tapi satu sisi aku juga merasa terjaga karena tak ada lagi yang menggangguku. Iya kamu, preman sekolah.

Semua berjalan baik-baik saja, hingga kamu kuliah. Aku masih kelas 3 waktu itu. Aku sebal ketika kamu mementingkan bermain game daripada menemui ku. DotA apalah itu, kamu sibuk dengannya. membuat kita tak bertemu hingga berbulan-bulan.

Setahun berjalan, masalah mulai muncul lalu kita memutuskan untuk berakhir. Ya, kita putus. Tapi tak berlalu lama kita memutuskan untuk kembali lagi.

Sayangnya setahun kemudian kita putus lagi untuk selamanya. Tentu disertai dengan drama. Yah namanya saja anak muda. Hehehee

Waktu berlalu, aku dengan hidupku dan kamu dengan hidupmu. Setelah 4 tahun tak berkabar, suatu ketika kita bertemu kembali di social media. Dan membuatku tahu kalo kamu kerja di negeri seberang hingga sekarang. Hubungan kita sekarang berjalan baik, menjadi teman. Terkadang tempat bercerita atau bergurau.

Hey kamu!
Pacar pertamaku.
Maafkan aku atas kejadian yang terdahulu, mungkin memang kita sama-sama belum dewasa. Baik-baik disana ya. Selagi ada waktu ke Indonesia kita bisa bertemu. Semoga hubungan baik kita tetap terjaga. Terima kasih untuk segalanya.

Cepat cari pasangan hidup, inget umur. Jangan sibuk cari duit terus!

Kini semua berbeda, kita sudah memiliki jalan hidup masing-masing. Tapi aku tak pernah menyesali pertemuan kita, dan berterima kasih dengan semua yang kamu ajarkan dan kita jalani bersama.

Selasa, 03 Februari 2015

Hati

Selamat pagi hati :)
Dari kemarin aku menulis surat cinta untuk orang lain, kali ini aku ingin menulis untukmu. Kamu yang bersedia terluka karena aku.

Semoga hari ini dan seterusnya kamu baik-baik saja ya. Sesungguhnya aku sudah tak mau membuatmu terluka lagi, aku pun sudah lelah. Tapi terkadang kenyataan tak seperti yang diinginkan, lagi-lagi kamu terluka. Aku sedang berusaha membuatmu senang, selalu bahagia, dan berusaha mencari seseorang yang bisa mengisi kamu dengan kebahagiaan. Tapi sabar ya, semua butuh waktu dan tak bisa langsung ketemu.

Hatiku, semoga kamu bahagia selalu!

Minggu, 01 Februari 2015

Telepon

Akhir-akhir ini aku harus semakin bersahabat dengannya hanya untuk sekedar menunggunya berbunyi. Meskipun sewaktu berbunyi terkadang nama yang tertera bukanlah yang aku inginkan.

Aku ingin namamu yang tertera di layar handphone ku.

Ku akui jarak memang menjadi salah satu penghalang. Bukan aku tak mau bertemu, tapi ya ada saja halangan. Begitupun kamu, yang terlalu sibuk kerja. Waktu menjadi alasan juga untuk bertemu, karena tak mungkin hanya sehari dua hari disamping waktu kerjamu yang tak menentu.

Tapi hari ini aku senang. Kamu meneleponku ketika sambil nyetir -ini jangan di contoh :p- , lalu kamu menjawab salam dan kamu tiba-tiba bertanya, 'suara di speaker dan kata-kata di layar ngga cukup kan?' dengan malu-malu aku menjawab, 'iya' . Setelah itu kamu kembali bertanya, 'lalu harus gimana?' aku kembali menjawab, 'ketemu' sambil kulanjutkan dengan tawaku yang katamu terdengar senang sekali.

Ya, aku senang mendengar suaramu pagi ini. Walaupun lagi-lagi aku harus sabar untuk bertemu denganmu. Dilanjutkan kamu bercerita apa yang terjadi semalam dan menceritakan apa yang akan kamu lakukan hari ini. Hari ini kamu kerja, dan akan sangat sibuk dua hari ini. Setelah itu, kamu bertanya aku sedang apa, hari ini apa yang aku lakukan, sudah makan belum. Akhirnya kamu memutuskan untuk menutup telepon karena akan masuk tol -lagi2 jangan di contoh nyetir sambil telepon-

Terlihat sederhana ya sebenernya, tapi mengena. Ya karena kita tak bisa sering bertemu. Tapi aku cukup senang dengan perhatianmu, sekedar bertanya kabar atau malah meminta maaf karena tak sempat memberi kabar.

Setelah selesai percakapan kita, aku pun termenung, aku berpikir. Padahal aku bukan siapa-siapa kamu, dan kamu pun memiliki kekasih. Tapi kenapa seperti ini, dan sudah hampir setahun begini.

Apa aku bodoh dan harus meninggalkanmu? Namun aku tak sanggup, sama sepertimu.